Sabtu, 21 Januari 2012

Tema : Hiperaktif atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Perilaku siswa-siswi usia sekolah saat ini beragam, salah satu perilakunya adalah anak-anak yang sangat sulit di atur, tidak bisa diam dan seolah-olah tidak memperhatikan pelajaran di kelas. Anak-anak tersebut biasanya mengalami gangguan dalam perkembangannya yaitu gangguan hiperkinetik yang secara luas di masyarakat disebut sebagai anak hiperaktif.
Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut minimal brain dysfunction syndrome. Terhadap kondisi siswa yang demikian, biasanya para guru sangat susah mengatur dan mendidiknya. Di samping karena keadaan dirinya yang sangat sulit untuk tenang, juga karena anak hiperaktif sering mengganggu orang lain, suka memotong pembicaraan guru atau teman, dan mengalami kesulitan dalam memahami sesuatu yang diajarkan guru kepadanya. Selain itu juga, prestasi belajar anak hiperaktif juga tidak bisa maksimal. Untuk itulah dibutuhkan suatu pendekatan untuk membantu anak-anak yang hiperaktif tersebut supaya mereka dapat memaksimalkan potensi diri dan meningkatkan prestasinya.
Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian.

1.2  Rumusan Masalah
1.2.1        Apa Pengertian Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif ?
1.2.2        Apa Karakteristik Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif ?
1.2.3        Apa Faktor Penyebab Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif ?
1.2.4        Bagaimana Pelayanan Pembelajaran Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif ?
1.2.5        Bagaimana Penanganan dan Alternatif Penyembuhan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif ?

1.3  Tujuan Masalah
1.3.1        Untuk mengetahui Pengertian Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.
1.3.2        Untuk mengetahui Karakteristik untuk Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.
1.3.3        Untuk mengetahui Faktor Penyebab Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.
1.3.4        Untuk mengetahui Pelayanan Pembelajaran Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.
1.3.5        Untuk mengetahui Penanganan dan Alternatif Penyembuhan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.




















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.

            ADHD adalah istilah popular, kependekan dari attention deficit hyperactivity disorder, (Attention = perhatian, Deficit = berkurang, Hiperactivity = hiperaktif dan Disorder = gangguan). Diartikan dalam Bahasa Indonesia, ADHD berarti gangguan pemusatan perhatian disertai hiperaktif.
            Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. ADHD sekitar tiga kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.
 Dr. Seto Mulyadi dalam bukunya “Mengatasi Problem Anak Sehari-hari“ mengatakan pengertian istilah anak hiperaktif adalah suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak. Perilaku ini ditandai dengan sikap tidak mau diam, tidak bisa berkonsentrasi dan bertindak sekehendak hatinya atau impulsif.
ADHD, juga dikenal sebagai gangguan perhatian defisit (ADD) atau gangguan hyperkinetic, telah ada lebih lama daripada kebanyakan orang sadari. Bahkan, kondisi yang muncul untuk menjadi serupa dengan ADHD digambarkan oleh Hippocrates, yang tinggal 460-370 SM. Nama Perhatian Defisit Disorder pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980 di DSM-III, edisi ketiga dari "Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders", digunakan dalam psikiatri. Pada tahun 1994 definisi telah diubah untuk memasukkan tiga kelompok dalam ADHD: jenis dominan hiperaktif-impulsif, tipe didominasi inatentif, dan jenis gabungan. ADHD biasanya muncul pada masa kanak-kanak tetapi dapat didiagnosis pada orang dewasa.

2.2 Karakteristik Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.

            Sekarang ini, anak ADHD dibedakan ke dalam tiga tipe. Pertama, tipe ADHD gabungan. Kedua, tipe ADHD kurang memerhatikan. Ketiga, tipe ADHD hiperaktif impulsive.
1.      Tipe ADHD gabungan
Untuk mengetahui ADHD tipe ini, dapat didiagnosis/dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk ‘perhatian’, ditambah paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk hiperaktivitas impulsifitas. Munculnya enam gejala tersebut berkali-kali sampai dengan tingkat yang signifikan disertai adanya beberapa bukti, antara lain sebagi berikut.
a.       Gejala-gejala tersebut tampak sebelum anak mencapai usia 7 tahun.
b.      Gejala-gejala diwujudkan pada paling sedikit dua tempat yang berbeda.
c.       Gejala yang muncul menyebabkan hambatan yang signifikan dalam kemampuan akademik.
d.      Gangguan ini tidak dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh kondisi psikologi atau psikiatri.
2.      Tipe ADHD kurang memerhatikan dan Tipe ADHD hiperaktif impulsif.
Untuk mengetahui  ADHD tipe ini, dapat didiagnosis/dideteksi oleh adanya paling sedikit 6 di antara 9 kriteria untuk ‘perhatian’ dan mengakui bahwa individu-individu tertentu mengalami sikap kurang memerhatikan yang mendalam tanpa hiperaktifvitas/impulsifitas. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa dalam beberapa buku teks, kita menemukan ADHD ditulis dengan garis AD/HD. Hal ini membedakan, ahwa ADHD kurang memerhatikan dari jenis ketiga yang dikenal dengan tipe hiperaktif impulsif.
3.      Tipe ADHD hiperaktif impulsive
Tipe ketiga ini menuntut paling sedikit 6 diantara 9 gejala yang terdaftar pada bagian hiperaktif impulsifitas. Tipe ‘ADHD kurang memerhatikan’ ini mengacu pada anak-anak yang mengalami kesulitan lebih besar dengan memori (ingatan) mereka dan kecepatan motor perceptual (persepsi gerak), cenderung untuk melamun, dan kerap kali menyendiri secara sosial.

2.2.1 Kriteria ADHD dari DSM IV (1994)

            Berikut ini kriteria ADHD berdasarkan Diagnostic Statistical Manual.
A.1 Kurang Perhatian
a. Seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail
b. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain.
c. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara langsung
d. Seringkali tidak mengikuti baik-baik intruksi dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan sekolah, pekerjaan atau tugas di tempat kerja.
e. Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan.
f. Seringkali kehilangan barang/benda yang penting untuk tugas-tugas dan kegiatan.
g. Seringkali mengihndari, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan tugas-tugas yang membutuhkan usaha mental yang didukung.
h. Seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar.
i. Seringkali lekas lupa dalam menyelesaikan kegiatan sehari-hari.
A.2 Hiperaktifitas Impulsifitas.
            Paling sedikit enam atau lebih dari gejala-gejala hiperaktivitas impulsifitas berkutnya bertahan selama paling sedikit 6 bulan sampai dengan tingkatan yang maladaptif dan tidak dengan tingkat perkembangan.
·         Hiperaktivitas.
a.       Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka dan sering mengggeliat di kursi.
b.      Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas
c.       Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi di mana hal ini tidak tepat.
d.      Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang.
e.       Sering ‘bergerak’ atau bertindak seolah-olah ‘dikendalikan oleh motor.
f.       Sering berbicara berlebihan.
·         Impulsifitas
a.       Mereka sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai.
b.      Mereka sering mengalami kesulitan menanti giliran.
c.       Mereka sering mengintrupsi orang lain.
 B. Beberapa gejala hiperaktivitas impulsifitas atau kurang perhatian yang menyebabkan gangguan muncul sebelum anak berusia 7 tahun.
C. Ada sesuatu di dua atau lebih setting/situasi.
D. Harus ada gangguan yang secara klinis, signifikan di dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan.
E. Gejala-gejala tidak terjadi selamanya berlaku PDD,skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak dijelaskan dengan lenbih baik oleh gangguan mental lainnya.


2.3 Faktor Penyebab Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.
            ADHD bukan disebabkan oleh parenting yang buruk, terlalu banyak asupan gula atau MSG, ataupun gara-gara vaksin. ADHD itu berawal dari masalah biologis yang belum seratus persen dapat dipahami.
            Dalam hal ini, tidak ada penyeba tunggal untuk ADHD. Para ahli telah meneliti beberapa kemungkinan dari faktor genetik dan lingkungan. Berikut ini komentar orang tua mengenai ADHD, “Gangguan ADHD dapat merusak hidup anak, menghabiskan banyak energy, menimbulkan rasa sakit secara emosional, menurunkan harga diri dan secara serius merusak hubungan kekerabatan atau pertemanan.”
Beberapa hal yang dapat menyebabkan perilaku hiperaktif ialah :
a.       Kondisi saat hamil & persalinan. Misalnya keracunan pada akhir kehamilan (ditandai dengan tingginya tekanan darah, pembengkakan kaki & ekskresi protein melalui urine), cedera pada otak akibat komplikasi persalinan.
b.      Cedera otak sesudah lahir,yang disebabkan oleh benturan kuat pada kepala anak.
c.       Tingkat keracunan timbal yang parah dapat mengakibatkan kerusakan otak. Hal ini ditandai dengan kesulitan konsentrasi, belajar dan perilaku hiperaktif. Polusi timbal berasal dari industri peleburan baterai, mobil bekas, asap kendaraan atau cat rumah yang tua. Obat untuk mengeluarkan timbal dari dalam tubuh hanya diberikan dibawah pengawasan dokter bagi anak kadar timbalnya sudah sangat tinggi, karena obat tersebut mempunyai efek samping.
d.      Lemah pendengaran, yang disebabkan infeksi telinga sehingga anak tidak dapat mereproduksi bunyi yang didengarnya. Akibatnya, tingkah laku menjadi tidak terkendali & perkembangan bahasanya yang lamban. Segeralah hubungi dokter THT jika anak menunjukkan ciri berikut: perkembangan bahasa yang lambat, lebih banyak memperhatikan mimik lawan bicara & lebih banyak berreaksi terhadap perubahan mimik & isyarat.
e.       Faktor psikis, yang lebih banyak dipengaruhi oleh hubungan anak dengan dunia luar. Meskipun jarang, hubungan dengan anggota keluarga dapat pula menjadi penyebab hiperaktivitas.  Contoh kasus, orang tua yang bersikap sangat tegas menyuruh anak berdiri 15 menit di pojok ruangan untuk mengatasi ketidakdisiplinannya. Tapi setelah 15 menit berlalu, maka anak malah mempunyai energi berlebih yang siap meledak dengan akibat lebih negatif dibanding kesalahan sebelumnya.
Faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak
1.      Faktor neurologik
Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan, distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga meninggikan insiden hiperaktif
Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi.
2.      Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet memilikipotensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat, ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.






3.      Faktor genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini juga terlihat pada anak kembar.
4.      Faktor Kultural dan psikososial
a. Pemanjaan.
Pemanjaan dapat juga disamakan dengan memperlakukan anak terlalu manis, membujuk-bujuk makan, membiarkan saja, dan sebagainya. Anak yang terlalu dimanja itu sering memilih caranya sendiri agar terpenuhi kebutuhannya.
b. Kurang disiplin dan pengawasan.
Anak yang kurang disiplin atau pengawasan akan berbuat sesuka hatinya, sebab perilakunya kurang dibatasi. Jika anak dibiarkan begitu saja untuk berbuat sesuka hatinya dalam rumah, maka anak tersebut akan berbuat sesuka hatinya ditempat lain termasuk di sekolah dan orang lain juga akan sulit untuk mengendalikannya.
c. Orientasi kesenangan.
Anak yang memiliki kepribadian yang berorientasi kesenangan umumnya akan memiliki ciri-ciri hiperaktif secara sosio-psikologis dan harus dididik agak berbeda agar mau mendengarkan dan menyesuaikan diri. Anak yang mempunyai orientasi kesenangan ingin memuaskan kebutuhan atau keinginan sendiri.
2.4 Pelayanan Pembelajaran Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.
Menurut Moeslichatoen ada beberapa metode yang cocok untuk membimbing dan
mengarahkan anak. Adapun keseluruhan metode tersebut akan dijelaskan di bawah ini
sebagaimana Moeslichatoen menjelaskan dalam bukunya “Metode pengajaran di
Taman Kanak-Kanak”.

1.      Metode Bercerita
Metode cerita juga digunakan oleh Allah untuk mengajarkan kepada manusia tentang
prinsip-prinsip rohani. Dalam cerita terjadi peristiwa yang menarik. Metode cerita bagi
anak-anak usia 3-5 tahun merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar
bagi anak secara lisan. Metode bercerita bagi anak usia ini dalam mengajarkan tentang
kebenaran haruslah menarik, mengundang perhatian dan tidak lepas dari konsep
bercerita. Dunia kehidupan anak itu penuh sukacita, maka kegiatan bercerita haruslah
diusahakan dapat memberikan perasaan, gembira, lucu, dan mengasyikkan. Karena
dunia kehidupan anak itu dapat berkaitan dengan lingkungan keluarga, sekolah dan
diluar lingkungannya.
Moeslichatoen mengatakan bahwa ada beberapa macam teknik bercerita yang dapat
dipergunakan antara lain guru atau orang tua dapat membaca langsung dari buku,
menggunakan illustrasi dari buku gambar, menggunakan papan flanel, menggunakan
boneka, bermain peran dalam suatu cerita.
2.      Metode tanya-jawab.
Dengan adanya metode tanya-jawab ini akan membuat antara anak dan guru ada
komunikasi. Itu juga diperlukan persiapan yang baik agar dapat memberikan jawaban
yang sesuai dengan kebenarannya. Kadang kala ada anak hiperaktif menanyakan
sesuatu yang dapat membuat guru menjadi bingung untuk menjawabnya. Saat anak
yang memiliki perilaku yang berlebihan itu tidak bisa diam, guru dapat langsung
bertanya kepada anak mengenai cerita yang baru saja diceritakan. Dengan cara ini
maka anak tersebut akan memberikan perhatiannya kepada guru yang bertanya.
Walaupun rentang konsentrasi anak seperti itu sangat singkat.
3.      Metode pekerjaan tangan.
Guru/pembimbing anak dapat memberikan metode pekerjaan tangan ini kepada anak
yang memiliki perlaku berlebihan atau yang tidak mau diam, seperti membuat bentuk
dari lilin, melukis dengan kanji yang berwarna warni. Hal tersebut harus dibuat oleh
anak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh guru. Dengan adanya metode ini maka
anak yang tidak mau diam tadi dapat diberikan kegiatan diatas, sehingga anak itu tidak
lagi mengganggu teman yang lainnya saat berada di kelas.
4.      Metode pemberian tugas.
Metode pemberian tugas merupakan tugas atau pekerjaan yang sengaja diberikan
kepada anak yang tidak mau diam, supaya kesempatan si anak untuk mengganggu
temannya mulai berkurang. Pemberian tugas itu juga harus jelas dan penentuan batas
yang tepat diberikan secara nyata. Banyak anak yang mengalami hambatan untuk
memperoleh kemajuan belajar karena tidak menentunya batas tugas yang diberikan
oleh guru untuk diselesaikan. Kejelasan penentuan batas tugas yang harus
diselesaikan anak akan memperkecil kemungkinan anak membuang-buang waktu dan
tenaga untuk suatu kegiatan yang tidak membuahkan hasil dan tidak bermakna bagi
anak. Pemberian tugas kepada anak seperti ini juga harus dapat membangkitkan minat
anak untuk mengembangkan tugas itu secara kreatif. Anak itu tidak akan melakukan
tugas bila yang diberikan oleh guru baginya itu tidak menarik. Pemberian tugas secara
tepat dan profesional akan dapat meningkatkan bagaimana cara belajar yang benar,
sehingga keinginan anak untuk melakukannya timbul pada dirinya sendiri. Bila
pemberian tugas itu menggunakan bahan yang bervariasi, dan sesuai dengan
kebutuhan dan minat anak, maka akan memberikan arti yang besar bagi anak tersebut.
5.      Metode bermain.
Metode bermain juga sangat baik diberikan kepada anak tersebut karena anak akan belajar mengendalikan diri sendiri, memahami dunianya. Dengan menggunakan metode bermain kepada anak seperti ini diperlukan guru-guru
yang harus menemaninya. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan
kreativitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang dapat menyalurkan bakat si anak.
Bagi anak seperti ini, metode ini dapat diberikan dan anak akan merasa sangat senang.
Karena anak itu dapat dengan bebas melakukan kegiatannya yang dirasakan cukup
baik bagi dirinya. Melalui kegiatan bermain ini anak dapat menggunakan otot kasar.
Bermacam cara dan teknik dapat dipergunakan dalam kegiatan tersebut seperti
merayap, berlari, merangkak, berjalan, melompoat, menendang, melempar
Guru/pembimbing anak dapat melakukan metode bermain ini sehingga anak tersebut
tidak cepat bosan dengan cara yang diberikan oleh guru. Seperti mengajak anak untuk
bernyanyi yang menggunakan aturan main. Anak seperti ini akan tertarik untuk
melakukannya.
Kegiatan bermain dapat membantu penyaluran kelebihan tenaga. Setelah melakukan
kegiatan bermain anak memperoleh keseimbangan antara kegiatan dengan
menggunakan kekuatan tenaga dan kegiatan yang memerlukan ketenangan. Anak
dapat menyalurkan rasa ingin tahunya dengan menggunakan metode bermain ini
seperti bagaimana caranya memasak, mengapa pohon layu bila tidak diberi air, dan
sebagainya.
Kegiatan menggambar dapat juga diberikan kepada anak hiperaktif termasuk didalam
kegiatan bermain. Anak dalam menggambar dapat menggunakan pensil warna dan
kertas gambar. Cara seperti ini merupakan salah satu kegiatan yang dapat
menyalurkan tenaga pada dirinya.

2.5 Penanganan dan Alternatif Penyembuhan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif.
Melihat penyebab ADHD yang belum pasti terungkap dan adanya beberapa teori penyebabnya, maka tentunya banyak sekali terapi atau cara dalam penanganannya sesuai dengan landasan teori penyebabnya. Ada satu hal yang perlu diketahui, bahwa tak ada penyembuhan ADH. Beberapa terapi untuk anak hiperaktif :
1. Terapi Farmakologi
Adalah penanganan dengan menggunakan obat- obatan. Terapi ini hendaknya hanya sebagai penunjang dan sebagai kontrol terhadap kemungkinan timbulnya impuls impils hiperaktif yang tidak terkendali. Rencana pengobatan harus dibuat secara individual, tergantung gejala dan efeknya terhadap kehidupan sehari-hari. Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa kombinasi obat dan terapi lain memberi hasil paling baik.
Pengobatan diberikan bila gejala impulsivitas, agresivitas, dan hiperaktivitas cukup berat sehingga menyebabkan gangguan di sekolah, di rumah, atau hubungan dengan teman. Pengobatan bertujuan menghilangkan gejala dan sangat memudahkan terapi psikologis. Lamanya pengobatan tergantung ada atau tidaknya gejala yang ingin dihilangkan.
Saat ini tersedia beragam tipe pengobatan yang dapat digunakan dalam menangani ADHD.
a. Stimulans.
Merupakan jenis obat yang paling sering digunakan dan sudah lebih 50 tahun dipakai dalam menangani ADHD. Dosis yang diberikan pun bervariasi, ada yang setiap 4 jam adapula yang lebih dari 12 jam . Sementara efek samping yang mungkin timbul, antara lain, nafsu makan menurun, sakit perut, snewen dan insomnia.
b.NonStimulans
Mulai dianjurkan untuk menangani ADHD pada tahun 2003. Obat ini diketahui mempunyai efek samping yang lebih sedikit dibandingkan tipe stimulant, dan masa paruh pakainya lebih dari 24 jam.
c. Antidepressants.
Terkadang dijadikan salah satu opsi dalam menangani ADHD, tetapi pada tahun 2004 Food and Drug Administration (FDA) mengeluarkan peringtan bahwa obat ini dapat memicu gejala aneh yang meningkatkan risiko terjadinya bunuh diri di antara anak dan remaja yang menggunakannya.
Jika anak kita diberi resep antidepressant, maka penting sekali untuk mendiskusikan risiko-risiko diatas dengan dokter.
Sebagai catatan, efek yang diberikan dari obat-obatan di atas akan berbeda-beda pada setiap anak. Efek samping seperti hilangnya selera makan, kesulitan tidur, atau mengantuk didalam kelas kerap kali dapat dikendalikan melalui penyesuaian dosis obat-obatan. Dengan demikian, untuk menemukan dosis yang paling tepat, dokter akan mencoba beragam jenis obat dan dosisnya khusunya, bila menangani anak ADHD yang disertai dengan kelainan lainnya.
2.   Terapi Bermain
Terapi bermain sangat penting untuk mengembangkan keterampilan, kemampuan gerak , minat dan terbiasa dengan suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai untuk sarana persiapan beraktivitas dan bekerja saat dewasa.
3. Terapi Perilaku                  
Terapi psikososial/perilaku, seperti pelatihan kemampuan sosial, dapat dianjurkan sebagai terapi awal bila gejala ADHD cukup ringan, diagnosis ADHD belum pasti, atau keluarga memilih terapi ini. Namun, untuk jangka panjangnya, terapi perilaku saja tidak cukup dalam menangani ADHD.
Berikut beberapa contoh strategi-strategi perilaku yang dapat membantu anak dengan ADHD.
a.    Menjadwal Rutinitas Harian.
Cobalah untuk megikuti “jadwal” kegiatan yang sama setiap hari dari bangun tidur sampai tidur lagi. Taruh jadwal tersebut di tempat yang dapat dilihat dengan mudah sehingga anak pun tahu.
b.   Keteraturan dan kerapian.
   Taruh tas sekolah, pakaian dan mainan di tempat yang telah ditentukan. Dengan demikian, risiko kehilangan benda-benda milik pribadi anak menjadi kecil.

c.    Mengurangi Distraksi.
   Matikan TV, radio dan game komputer khususnya pada saat anak sedang belajar atau mengerjakan PR.
d.   Batasi pilihan-pilihan.
   Jika menawarkan sesuatu, batasi pilihan yang ditawarkan menjadi DUA pilihan saja. Misal, “ Dede mau es krim atau es cendol”. Kebiasaan di atas dapat mencegah anak dari kebingungan dan overstimulasi.
e.    Mengubah Gaya Interaksi dengan Anak.
   Anak ADHD lebih mudah memahami perintah dan petunjuk yang ringkas, jelas, dan singkat daripada perintah dan petunjuk yang banyak penjelasan dan bertele-tele.
f.    Buat daftar Goals dan Rewards.
   Buat daftar perilaku baik yang berhasil ditampilkan anak sesuai dengan permintaan kita, kemudian beri imbalan yang pantas kepadanya.
   Tetapi, pastikan goal yang kita inginkan itu realistis karena tidak ada yang namanya sukses dalam semalam!
g.   Menerapkan Disiplin yang efektif.
   Daripada memarahi atau memukul, lebih baik gunakan mettode timeouts atau mengurangi fasilitas-fasilitas yang biasa kita berikan pada anak sebagai konsekuensi untuk perilaku buruk yang ditampilkan anak.
   Untuk anak yang masih kecil, cukup kita alihkan perhatian atau tunggu saja, dia pun akan normal kembali.

h.   Bantu Anak Menemukan Bakatnya.
   Semua anak perlu mendapat perasaan sukses agar dapat merasa baik terhadap diri mereka sendiri. Temukan dan beri pujian pada setiap pencapaian yang berhasil ditampilkan anak, apakah itu di bidang olahraga, musik, menggambar, mengarang dan lain-lain.
   Tindakan seperti ini dapat memacu perkembangan keahlian sosial anak serta dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak.
















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktifitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktifitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan.
Sekarang ini, anak ADHD dibedakan ke dalam tiga tipe. Pertama, tipe ADHD gabungan. Kedua, tipe ADHD kurang memerhatikan dan tipe hiperktif impulsife. Ketiga, tipe ADHD hiperaktif impulsive.
ADHD bukan disebabkan oleh parenting yang buruk, terlalu banyak asupan gula atau MSG, ataupun gara-gara vaksin. ADHD itu berawal dari masalah biologis yang belum seratus persen dapat dipahami. Faktor-faktor penyebab hiperaktif pada anak yaitu,   Faktor neurologik,  Faktor toksik faktor genetik dan Faktor Kultural dan psikososial.

Metode bimbingan bagi anak hiperaktif Menurut Moeslichatoen ada beberapa metode yang cocok dan membimbing mengarahkan anak. Adapun Metode Bermain, Metode Bercerita, Metode Tanya Jawab, Metode Pemberian Tugas dan Metode Pekerjaan Tangan.

Melihat penyebab ADHD yang belum pasti terungkap dan adanya beberapa teori penyebabnya, maka tentunya banyak sekali terapi atau cara dalam penanganannya sesuai dengan landasan teori penyebabnya. Ada satu hal yang perlu diketahui, bahwa tak ada penyembuhan ADH. Beberapa terapi untuk anak hiperaktif : Terapi Bermain, Terapi Perilaku, Terapi Farmakologi dan Lingkungan.






DAFTAR PUSTAKA
Anes.Review Definisi Hiperaktif.(http//annes_blog  Definisi Hiperaktifitas.htm) 2 November 2011.
Baihaqi,MIF & Sugarmin,M.2008.Memahami dan Membantu Anak ADHD.Bandung:PT Refika Aditama.
Dyna.Review Makalah Anak Hiperaktif.(http//makalah-anak-hiperaktif.html) 2 November 2011.
Jenny Jihan Assyara.Review Anak Hiperaktif.(http//anak-hiperaktif.html) 3 November 2011.
Priyatna, A.2010.Not a Little Monster! Memahani, Mengasuh, dan Mendidik Anak Hiperaktif.Jakarta:Pt Elex Media Komputindo.
Ryan Hidayat.Review ADHD.( http//ryaneducationforall  makalah ADHD.htm) 3 November 2011.
Review Membimbing Anak Hiperaktif.(http://www.scribd.com/doc/21250990/Membimbing-Anak-Hiperaktif) 9 November 2011.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar